1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

161109 D Online-Shopping

17 November 2009

Saat ini, jumlah pembeli online terus meningkat. Dan akhir dari trend ini belum tampak terlihat.

https://p.dw.com/p/KZCg
Foto: picture-alliance / dpa / Themendienst

Konsumen yang berbelanja secara online jumlahnya di Jerman terus meningkat. Alasannya diungkapkan seorang pelanggan berusia 40 tahun bernama Rolli, “Karena barang yang dijual di internet harganya lebih murah dibanding di toko. Karena saya bisa belanja Sabtu malam jam 11, dan tidak perlu saran serta lebih gampang dan nyaman.“

Bagi kaum pria, disamping alasan kekurangan waktu, kenyamanan belanja secara online merupakan argumen paling kuat. Juga tawaran produk yang dijual lewat internet nyaris tanpa batas. Masing-masing pelanggan tinggal memilih produk yang disukainya. Katharina, yang juga pelanggan setia belanja secara online menjelaskan, “Biasanya saya belanja pakaian atau produk kecantikan, tapi kadang-kadang membeli obat di apotik online, sepatu dan CD.“

Sementara Rolli mengatakan, paling sering ia membeli buku atau CD lewat jalur internet. Tapi ia tidak pernah membeli sepatu, celana atau produk yang harus dicoba pakai atau dipas lewat toko online. Rolli menjelaskan, untuk pakaian ia membelinya secara konvensional, dengan mendatangi tokonya.

Padahal berdasarkan data statistik terbaru, sekitar 42 persen pembeli lewat jalur online berbelanja produk tekstil dan garmen. Di posisi kedua, pembeli buku dan CD musik dengan sekitar 18 persen. Kemungkinan pembayaran barang yang dibeli juga amat beragam, mulai dari pembayaran dengan transfer terlebih dahulu, tagihan setelah barang diterima, lewat kartu kredit atau dengan cash card.

Tapi sebagian pembeli juga merasa was-was, seperti diungkapkan Claudia yang berprofesi sebagai pegawai bank, “Yang paling penting adalah, bagaimana dengan data pribadi saya? Apakah saya harus memberikan semuanya. Juga ongkos kirim. Kapan saya harus membayar dan seberapa besar? Juga bagaimana kenampakan situsnya, apakah dapat dipercaya? Apakah perusahaannya bonafid atau samasekali tidak dikenal?“

Untuk sebagian pelanggan, mereka nyaris percaya sepenuhnya terhadap bisnis online. Kadang-kadang kepercayaan tanpa batas ini justru memicu masalah. Misalnya Kerstin seorang mahasiswi berusia 28 tahun, menceritakan pengalaman buruknya belanja secara online, “Saya pernah memesan dan hendak membatalkannya. Tapi pedagangnya mengatakan, barang yang saya kirim balik tidak sampai. Jadi saya tetap harus membayar. Untung saja bon pengirimannya saya simpan, dan masalahnya dapat dituntaskan.“

Belanja virtual ibaratnya surga bagi para pengejar barang obralan. Juga barang-barang yang dipesan dari luar negeri, walaupun dibebani pajak dan bea masuk, tetap jauh lebih murah dari harga produk serupa di toko di Jerman. Tidak mengherankan, jika pelanggan yang berbelanja di toko-toko virtual semacam itu terus meningkat jumlahnya.

Anja Seiler/Agus Setiawan

Editor: Yuniman Farid