1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Komisi Eropa Melabel Nuklir dan Gas Sebagai ‘Energi Hijau’

2 Februari 2022

Keputusan Komisi Eropa itu dianggap sebagai langkah mundur dalam transformasi menuju energi bersih dan membuka peluang bagi praktik 'greenwashing'. Kritik terbesar justru datang dari investor sendiri.

https://p.dw.com/p/46PfK
Pembangkit nuklir di Belgia
Pembangkit nuklir di BelgiaFoto: Oliver Berg/dpa/picture alliance

Komisi Eropa bersiap menghadapi badai kecaman oleh pegiat iklim, saat meloloskan panduan investasi hijau pada Rabu (2/2) ini. Penyebabnya adalah deklarasi Komisi Eropa yang memberikan "label ramah lingkungan” bagi energi nuklir dan gas alam.

Pergulatan soal klasifikasi sumber energi sejak awal sudah mendominasi perundingan ke 27 negara anggota UE, untuk mencari jalan terbaik menuju ekonomi niremisi pada 2050

Komisi Eropa berharap, panduan bernama "taksonomi hijau” itu bisa menjadi standar global dalam menentukan jenis investasi yang bisa digolongkan ramah iklim. Namun perdebatannya dipenuhi kontroversi ketika sebagian negara bersikeras melibatkan nuklir dan gas alam sebagai sumber energi terbarukan.

Klausul tersebut dibuat antara lain untuk mengakomodasi kepentingan Prancis yang banyak bergantung dari energi nuklir. Adapun gas alam merupakan salah satu sumber energi utama di Jerman, dan dianggap bisa menopang transisi energi bagi Polandia yang saat ini masih mengandalkan batu bara.

Prediksi biaya per kw/jam energi listrik di Eropa berdasarkan sumber jenis energi
Prediksi biaya per kw/jam energi listrik di Eropa berdasarkan sumber jenis energi

Berlin dan Paris bersikukuh kedua sumber energi layak mendapat label hijau. Hal ini menempatkan Komisi Eropa yang dipimpin bekas Menteri Pertahanan Jerman, Ursula von der Layen, dalam posisi sulit. 

Komisi Eropa dijadwalkan mengadopsi proposal kedua negara untuk mengizinkan penggunaan energi nuklir dan gas alam pada Rabu  (2/2), untuk menjembatani masa transisi menuju energi bersih. Keputusan dibuat setelah menjalani konsultasi kilat dengan negara anggota lain, tulis lembaga eksekutif UE itu dalam keterangan persnya.

Kontroversi sumber energi

Sebanyak empat negara Uni Eropa sebelumnya menentang usulan tersebut, karena "tidak selaras” dengan tujuan Perjanjian Iklim Paris dan melemahkan taksonomi hijau Uni Eropa sebagai "standar emas” di dunia, tulis pemerintah Denmark, Swedia, Austria dan Belanda dalam sebuah surat kepada Komisi Eropa, Selasa (1/2).

Pusat Daur Ulang Limbah Radioaktif La Hague

Kritik juga datang dari lembaga Uni Eropa lain. Januari silam, Bank Investasi Eropa mengumumkan niat untuk mengabaikan panduan UE lantaran besarnya penolakan investor hijau terhadap kedua jenis sumber energi.

"Jika kita kehilangan kepercayaan investor dengan menjual sesuatu sebagai proyek hijau, yang kemudian ternyata sebaliknya, maka kita seperti memotong kaki sendiri,” kata Presiden EIB, Werner Hoyer.

Lembaga investasi hijau milik dua bank investasi terbesar AS, JPMorgan dan Goldman Sachs Januari lalu meyebutkan, proposal hijau terkait gas dan nuklir "akan menghambat ambisi UE menetapkan standar internasional yang berbasis sains dan bisa dipercaya untuk mengklasifikasikan aktivitas ekonomi.”

Jika diadopsi, RUU Investasi Hijau yang baru, akan memasuki masa pembahasan selama empat bulan oleh negara anggota. Dibutuhkan 20 dari 27 negara untuk bisa menggagalkan proposal tersebut, atau mayoritas di parlemen Eropa sebesar minimal 353 suara. 

rzn/as (afp,rtr)