1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikTimur Tengah

Usai Gencatan Senjata, Warga Gaza dan Israel Merajut Asa

Tania Kraemer
12 Agustus 2022

Warga di Israel selatan dan Gaza kembali menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Namun, situasinya tetap bergejolak. Lalu bagaimana mereka merajut asa untuk tetap bertahan di wilayah konflik?

https://p.dw.com/p/4FRBb
Kerusakan di Jalur Gaza
Seorang warga Gaza menyaksikan kehancuran rumahnya usai serangan udara oleh militer Israel, Minggu (7/8)Foto: Fatima Shbair/AP Photo/picture alliance

Ketika gencatan senjata antara Israel dan Palestina Islamic Jihad (PIJ) mulai berlaku pada Minggu malam (07/08), bantuan disalurkan melalui kibbutz Nirim, Israel selatan. Lokasi ini berada beberapa kilometer dari Jalur Gaza.

"Pada hari Minggu (07/08) itu menjadi sangat sulit, karena intensitasnya, dan jeda peringatan sirine sangat singkat," kata Michal Rahav.

Bersama ketiga anak dan dua anjingnya, perempuan berusia 45 tahun itu menghabiskan tiga hari berlindung di dalam rumah. Sirene peringatan terjangan roket atau mortir dari Gaza meraung keras. Beberapa keluarga telah meninggalkan kibbutz pada awal serangan, tetapi Rahav dan keluarganya tetap bertahan.

Rahav berbagi cerita dengan DW bagaimana keluarga itu sering mengalami situasi serupa dalam beberapa tahun terakhir. "Ini memakan korban. Pada pukul 10 malam, kami semua gelisah dan kami hanya ingin ini berakhir."

Seorang perempuan dengan dua anaknya duduk di teras
Michal Rahav (kanan) dan anak-anaknyaFoto: Tania Kraemer/DW

Di dekatnya, Adele Raemer mengajak DW berjalan di sekitar rumahnya. "Anda tidak terbiasa dengan ini. Tidak ada yang terbiasa dengan ini, hanya nol hingga 10 detik untuk berlari ke tempat yang aman," katanya. Dia ingat ketika keadaan berbeda, seperti pada 1980-an, saat rumahnya dibangun oleh warga Gaza yang datang untuk bekerja di Israel.

Operasi "Breaking Dawn"

Pada 5 Agustus lalu, militer Israel meluncurkan operasi militer yang diberi nama Breaking Dawn, serangan udara pendahuluan yang menewaskan salah satu komandan senior PIJ di Gaza. Awal pekan yang sama, Israel telah menerima ancaman dari kelompok militan setelah menangkap seorang pemimpin senior PIJ di Tepi Barat.

Eskalasi itu adalah yang paling serius sejak Mei 2021, ketika Israel dan Hamas, kelompok militan yang menguasai Gaza, berperang selama 11 hari. Analis Israel percaya bahwa Hamas yang sementara menyatakan dukungan pada PIJ, tidak terlibat dalam konfrontasi karena mereka masih dalam konsolidasi. Selain itu, para analis menyebut ada tekanan publik dan ekonomi untuk tidak terlibat dalam konflik lain.

PIJ menembakkan sekitar 1.175 roket terutama ke arah komunitas Israel yang dekat dengan Gaza, dan beberapa ke arah Tel Aviv dan Yerusalem. Sekitar 200 roket nyasar meledak di dalam Gaza, menurut militer Israel. Pasukan Pertahanan Israel melaporkan bahwa sistem pertahanan rudal Iron Dome telah berhasil mencegat 97% roket PIJ.

Tumbuhnya dukungan untuk Lapid

Perdana Menteri Israel Yair Lapid memuji operasi itu sebagai keberhasilan. Beberapa analis percaya perdana menteri sementara itu bisa menggunakannya sebagai pengaruh untuk membentuk pemerintahan koalisi berikutnya setelah pemilihan pada 2 November mendatang. Tiga jajak pendapat yang dirilis oleh saluran berita Israel pada hari Senin (08/08) menunjukkan peringkat atas dukungan terhadapnya meningkat.

"Di Gaza akhir pekan ini, Lapid mendapatkan rasa hormat dari banyak warga Israel dengan mengambil inisiatif alih-alih menunggu pihak lain bergerak dan kemudian merespons,” tulis Amir Tibon, seorang jurnalis di harian Haaretz.

Dengan tidak adanya solusi berupa negosiasi politik, penduduk di selatan Israel tetap realistis. "Ini bukan akhir dari segalanya, pasti. Ini adalah babak pertempuran dengan kelompok Jihad. Kami memiliki babak lainnya dengan Hamas yang akan datang dalam waktu dekat. Ini hanya permulaan," kata Rahav, duduk di luar di terasnya.

Kehancuran di Jalur Gaza

Beberapa kilometer melintasi perbatasan di Jalur Gaza, warga bermunculan setelah tiga hari serangan udara dan tembakan artileri oleh militer Israel. Selama tiga hari, militer mengatakan telah menyerang lebih dari 170 sasaran di Jalur Gaza.

Kawah yang dalam akibat serangan udah tampak di tengah permukiman warga, di Rafah, Jalur Gaza selatan. Pemandangan seperti itu adalah sesuatu yang terlalu akrab bagi Mohammed Shaath. Di sini, serangan udara yang ditargetkan menewaskan seorang komandan senior PIJ kedua pada Sabtu (06/08) malam. Dua militan dan lima warga sipil, termasuk seorang anak, juga tewas.

Kondisi Gaza usai perang
Warga Gaza memulai kembali kehidupan mereka usai perang yang mempora-porandakan permukiman merekaFoto: Ashraf Amra/APA Images/ZUMA/picture alliance

"Hidup saya adalah perang. Pada 2008, 2012, 2014, 2021, 2022. Saya berharap kehidupan kita di kota ini bisa berubah," kata Shaath, yang berusia 24 tahun dan harus bertahan hidup di tengah kondisi pengangguran. "Kebanyakan rumah di sini memiliki atap logam bergelombang, jadi jelas ada banyak kerusakan. Semua perang ini sangat memengaruhi kami."

Mahmoud, pemuda lain yang membantu membersihkan puing-puing, menggemakan sentimen itu. "Hidup kami penuh dengan perang. Ekonomi, sosial, perang politik, selalu perang, kehidupan kami sehari-hari adalah perang," katanya. Dia tidak tidur selama tiga hari terakhir, mencoba menghibur adik-adiknya yang ketakutan karena suara bom.

"Saya hanya ingin seperti anak muda lainnya, hidup dengan aman dan memberi makan keluarga saya. Hidup normal. Ini mimpi yang sangat sederhana," tambah pria berusia 22 tahun itu.

Pembatasan yang melumpuhkan Gaza

Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa 46 orang tewas, di antaranya militan dan 16 anak-anak. Lebih dari 360 orang terluka, dan menurut UN-OCHA, beberapa ratus unit rumah rusak. Jihad Islam mengatakan 12 gerilyawan telah tewas.

Penduduk wilayah kecil telah mengalami empat perang dan banyak eskalasi militer yang lebih pendek sejak Hamas, yang ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat, merebut kekuasaan dari Otoritas Palestina pada tahun 2007. Israel dan kadang-kadang Mesir, telah memberlakukan penutupan yang melumpuhkan di Gaza, membatasi akses ke wilayah itu melalui darat, udara, dan laut. Ini termasuk pembatasan ketat pada pergerakan sebagian besar penduduk dan arus barang.

Sementara puing-puing dibersihkan sekali lagi di Gaza, Israel pada Senin (08/08) membuka kembali titik persimpangannya dengan Jalur Gaza dan mengizinkan pasokan bahan bakar dan bantuan kemanusiaan lainnya.

Pembangkit listrik satu-satunya di wilayah itu ditutup selama konflik setelah kehabisan bahan bakar pada Sabtu (06/08), memotong pasokan listrik yang sudah sedikit selama musim panas. Ribuan pekerja Palestina diperkirakan akan menggunakan penyeberangan perbatasan Erez yang dibuka kembali untuk melanjutkan pekerjaan di Israel dalam beberapa hari mendatang.

"Situasi Gaza tak terlukiskan, terlalu banyak krisis seperti perang beberapa hari yang lalu, terlalu banyak kerugian. Ini menguras semua aspek,” kata Aya Malahi, lulusan studi media berusia 24 tahun dari Kota Gaza. "Tidak ada pekerjaan. Tidak ada yang bisa menciptakan atau membangun masa depan di Gaza."

(rs/ha)