1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Megacities Membuat Orang Sakit

25 Oktober 2012

Pusat Kajian "Neuro-Urbanismus" meneliti hubungan antara stress perkotaan dengan penyakit psikis.

https://p.dw.com/p/16Vu6
Foto: picture-alliance/dpa

Lebih bising, lebih banyak kendaraan, lebih banyak sampah, orang-orang berdesakan di mana-mana. Kehidupan di kota-kota besar membuat stress. Tapi makin banyak orang pindah ke kota karena peluang kerja lebih besar, gaji lebih besar, tawaran budaya dan gaya hidup. Jika 60 tahun lalu kurang dari sepertiga penduduk dunia hidup di perkotaan, kini sudah lebih dari separuhnya. Menurut perkiraan para pakar, sampai tahun 2050 angkanya akan mencapai 70 persen.

Dengan naiknya jumlah penduduk kota, di seluruh dunia juga meningkat jumlah penderita penyakit psikis, diperingatkan Andreas Meyer-Lindenberg, Direktur Institut Pusat untuk Kesehatan Kejiwaan di Mannheim. "Depresi saja yang dialami warga di Eropa per tahunnya memakan biaya 120 miliar Euro. Dan biaya semua penyakit psikis meningkat, termasuk demensia, gangguan ketakutan dan psikosis, saat ini melebihi anggaran mekanisme stabilitas Uni Eropa. Keseringan dan keseriusan penyakit-penyakit ini sering kali dianggap remeh.“

Kehidupan Kota Sering Membuat Kesepian dan Sakit

Tahun 2003 psikiater Inggris mempublikasikan sebuah studi tentang kondisi psikis penduduk kota London bagian Camberwell, sebuah kawasan yang sejak tahun 1960-an mengalami kemajuan pesat. Antara tahun 1965 dan 1997 jumlah pasien Skizofrenia naik dua kali lipat, tanpa peningkatan drastis jumlah penduduk.

Di Jerman antara tahun 2000-2101 jumlah hari tidak masuk kerja akibat penyakit psikis naik dua kali lipat. Di Amerika Serikat berdasarkan perkiraan terakhir, 40 persen jumlah hari sakit para pekerja disebabkan depresi.

"Di kota-kota bisa terjadi dimana orang tidak mengenal tetangganya, dimana orang tidak memperoleh bantuan sosial, seperti yang mungkin diperolehnya di kota-kota lebih kecil atau di desa, sehingga orang menjadi kesepian dan merasa terkucil dari lingkungan sosial dan merasa kurang memiliki jaringan keamanan." Kerugian dari kehidupan kota sudah diketahui, demikian Andreas Heinz, Direktur bagian Psikiatri Rumah Sakit Charité di Berlin.

Studi-studi yang menunjukkan dampak pengaruh "kota" bagi otak manusia sementara ini hampir tidak ada. Meski demikian dari percobaan pada hewan diketahui, bahwa isolasi sosial dan sistem neurotransmiter otak berubah.

"Pada dasarnya diperkirakan, bahwa serotonin yang merupakan materi neurotransmiter terpenting untuk mengurangi kondisi berbahaya. Jika orang mengisolasi sejak dini hewan tersebut, kadar serotoninnya merosot tajam. Artinya kawasan-kawasan yang beraksi terhadap rangsangan membahayakan, akan diredam dan semakin kuat bereaksi. Jadi pengisolasian sosial atau kurangnya dukungan sosial dapat menyebabkan seseorang dalam menghadapi situasi stress amat peka dan dalam banyak situasi yang seharusnya tidak begitu membahayakan, menanggapinya dengan reaksi berlebihan. Hal itu dapat menyebabkan bahwa orang lebih mudah mengalami penyakit ketakutan atau juga depresi."

Kehidupan Kota Mengubah Otak

Salah satu studi pertama dengan melakukan percobaan terhadap manusia tampaknya mengkonfirmasi dugaan-dugaan ini. Pada pencitraan resonansi magnetik, Andreas Meyer-Lindenberg dan timnya meneliti otak-otak manusia yang tumbuh dewasa di kota dan orang-orang yang baru setelah dewasa pindah ke kota. Sembari peserta uji coba mengerjakan tugas berhitung yang mudah, para ilmuwan secara permanen menekan mereka dengan feedback-feedback sosial yang negatif. Misalnya para ilmuwan mengritik mengapa peserta uji coba menghitung terlalu lamban atau salah menghitung, atau bekerja jauh lebih buruk dari peserta uji coba sebelumnya.

"Kami secara terarah mengamati areal otak yang aktif jika orang mengalami stress. Dan reaksinya menunjukkan perbedaan besar, tergantung pada seberapa kuat pengalaman perkotaan yang dimiliki seseorang. Terutama amigdala amat bereaksi terhadap stress akibat faktor sosial, dan reaksinya semakin besar jika orang bersangkutan berasal dari lingkungan perkotaan. Bagian otak ini selalu aktif jika seseorang menanggapi sebuah situasi sebagai membahayakan. Itu dapat memicu reaksi agresif dan berperan dalam memicu gangguan ketakutan.“ Siapa yang tumbuh besar di kota, dalam kondisi stress juga menunjukkan aktivitas di areal otak tertentu, seperti orang yang akibat kesalahan genetis peka terkena skizofrenia.

Peneliti Otak Beri Data untuk Planologi Kota yang Sehat

Di seluruh dunia, kota-kota tumbuh pesat dan mengalami perubahan. Tapi menurut Meyer-Lindenberg, tidak ada yang punya data meyakinkan mengenai bagaimana sebaiknya tampak kota yang ideal, jika turut memasukkan faktor kesehatan psikis penduduknya. Oleh karena itu bersama dengan pakar geografi Universitas Heidelberg dan pakar fisika Institut untuk Teknologi Karlsruhe, Meyer-Linderberg mengembangkan piranti bergerak yang dapat melokalisir peserta uji coba pada berbagai tempat di kota. Dengan alat ini mereka di simpang jalan atau di sebuah taman, dapat melakukan uji coba situasi kejiwaan seseorang.

Bersama dengan hasil penelitian dari otak peserta uji coba, para peneliti mengharap pengetahuan konkret mengenai bagaimana berbagai aspek sehari-hari kehidupan perkotaan membentuk gambaran pada otak. Apakah rumah yang sempit menyebabkan stress, atau hanya jika jalannya terlalu sempit? Apakah menimbulkan ketenangan jika setiap orang dapat melihat pohon, atau cukup jika ada taman di dekatnya? Apakah berjalan-jalan melintasi lahan yang hijau dapat memberikan efek yang dapat diukur di otak?

Arsitek Harus Berubah Pikiran

Bagi arsitek dan pakar planologi, kata Richard Burdett, profesor untuk peneliti kota pada London School of Economics, pengetahuan para peneliti otak di masa depan dapat menjadi penolong pengambil keputusan. Dan "Neuro-Urbanismus" menjadi sumbangan amat menjanjikan, untuk menghindari penyebarluasan penyakit psikis di kota-kota. "Pakar planologi di masa depan seharusnya memiliki pandangan yang seimbang antara kepentingan mengorganisir orang-orang dalam ruangan yang kecil dan kepentingan memiliki ruang yang terbuka. Orang-orang menurut Burdett, "harus punya akses ke bioskop, bertemu dengan teman-temannya atau jalan-jalan di pinggir sungai. Aspek-aspek semacam itu saat ini sering tidak dipikirkan jika kota-kota baru dirancang di Cina atau di Indonesia. Arsitek memperhatikan proporsi dan bentuk serta planologi terhadap efisiensi kendaraan umum. Tapi kita sering tidak memiliki pengetahuan, apa efeknya itu bagi manusia."

Lidya Heller / Dyan Kostermans

Editor: Carissa Paramita