1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Implan Rambut Sembari Berlibur di Turki

6 November 2013

Turisme medis sedang naik daun. Kini Turki menarget turis medis untuk tetap berada di peringkat keenam negara tujuan turis dunia.

https://p.dw.com/p/18AXk
Foto: picture-alliance/dpa

Duduk di sebuah klinik swasta di pemukiman elit di Istanbul, Saleh, seorang turis dari Qatar, bersiap-siap untuk meninggalkan Turki berbekal senyum di muka dan lebih banyak rambut di kepala. Kalau sebelumnya Saleh mengunjungi ibukota Turki beserta istri dan anak untuk melihat-lihat dan belanja, kini ia kembali ke Istanbul sebagai seorang turis medis.

Turki tengah menjalankan misi untuk mencari alternatif dari paket tur all-inclusive yang kerap mendatangkan keluhan dari para pelaku bisnis lokal. Mereka menilai paket turisme tersebut tidak banyak menghasilkan pemasukan bagi ekonomi lokal. Kini turisme kesehatan menjadi salah satu upaya untuk mendorong pemasukan dan memperkecil defisit yang menjadi kelemahan ekonomi Turki.

Hagia Sophia, salah satu situs bersejarah di Istanbul
Hagia Sophia, salah satu situs bersejarah di IstanbulFoto: Bulent Kilic/AFP/Getty Images

Diversifikasi Pariwisata

Sekitar 37 juta turis mengunjungi Turki tahun lalu. Sekitar 270.000 datang untuk prosedur bedah, mulai dari implan kumis dan sedot lemak hingga operasi untuk penyakit serius, mendatangkan pemasukan senilai 1 miliar Dolar dan mewakili sebagian porsi, yang meski kecil namun terus bertambah, bagi pemasukan dari sektor pariwisata.

"Umumnya turis medis datang untuk 3 hari. Kami juga menawarkan tur belanja atau tur ski, jadi mereka pulih dan mendapatkan liburan singkat," jelas Kazim Devranoglu, kepala bagian medis Grup Dunyagoz, yang memiliki 14 klinik mata di Turki dan beberapa cabang di Eropa.

Sekitar 10 persen dari kelompok pasien tersebut, yakni sekitar 35.000 orang per tahun, kini datang dari luar negeri, tambahnya. "Kebanyakan dari mereka datang dari negara-negara Eropa bagian barat seperti Jerman, Belanda, Belgia, dan juga Aljazair serta Azerbaijan."

Alternatif Murah

Ada sejumlah faktor di balik daya tarik Turki. Kalangan profesional dunia medis dan pasien mengatakan biaya operasi plastik dan koreksi mata, termasuk biaya transportasi dan akomodasi, bisa sampai 60 persen di bawah program serupa di Eropa bagian barat.

Pemerintah di Ankara memiliki target untuk melipatgandakan jumlah turis medis hingga setengah juta orang per tahun dalam 2 tahun ke depan, serta menaikkan pemasukan hingga 7 miliar Dolar melalui perawatan medis bermargin lebih tinggi.

"Kami melihat Turki sebagai tujuan utama bagi turisme medis," ujar Dursun Aydin, kepala departemen pasien internasional dari Kementerian Kesehatan Turki. "Kami memiliki dokter-dokter yang berpengalaman. Rumah-rumah sakit baru. Turki relatif tidak terlalu mahal dan iklim yang bersahabat juga membantu."

Pedagang es di distrik Beyazit
Pedagang es di distrik BeyazitFoto: picture alliance/Dumont Bildarchiv

Fasilitas Negara

Meski masih berbentuk rencana, pemerintah Turki mempertimbangkan zona kesehatan bebas pajak yang dapat diakses dari bandara untuk menjadi daya pikat pasien dari luar negeri. Mereka juga berencana menawarkan insentif pajak bagi investor.

Di bawah undang-undang yang mulai berlaku Februari lalu, yang memfasilitasi kemitraan publik dan swasta, pemerintah Turki akan menyewakan rumah-rumah sakit negara untuk dibangun dan dikelola oleh sektor swasta selama 25 tahun.

"Tujuannya untuk merevitalisasi rumah-rumah sakit yang menua. Meski terutama dibangun bagi warga Turki, semua rumah sakit akan dilengkapi peralatan mewah dan menarget sedikitnya sejumlah konsumen dari luar negeri," ungkap Aydin.

cp/vlz (rtr, afp)