1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ukraina Tambah Tegang

21 April 2014

Rusia kirim jet tempur untuk berpatroli di perbatasan dengan Ukraina. Sementara itu orang bersenjata serbu kantor pemerintah di kota-kota strategis.

https://p.dw.com/p/1BlaP
Kaum separatis di Sloviansk, Ukraina timurFoto: DW/R. Goncharenko

Langkah itu menjadi tantangan besar bagi pemerintah baru Ukraina, yang berusaha melaksanakan tugas bagi negara yang terbelah antara Barat dan Rusia. Perdana Menteri baru Ukraina mengatakan, masa depan negara terletak pada Uni Eropa, tetapi hubungan berteman dengan Rusia juga diinginkan.

Sekitar 150.000 tentara Rusia kini melaksanakan latihan militer dan jet tempur berpatroli di daerah perbatasan dengan Ukraina. Sebuah kantor berita Rusia yang dihormati, RBK melaporkan Rabu (16/04) bahwa bekas Presiden Ukraina Viktor Yanukovych sekarang berada di sanatorium di luar Moskow, yang dijalankan badan properti administrasi kepresidenan.

Tetapi juru bicara badan ini, Viktor Khrekov mengatakan kepada kantor berita AP Kamis (17/04) ia tidak mendapat informasi apapun tentang hal ini. Juru bicara Presiden Rusia, Vladimir Putin juga menyatakan tidak mendapat informasi tentang kedatangan Yanukovych di Moskow.

Yanukovych Nyatakan Harus Jaga Keamanan Diri

Kamis (17/4), Yanukovych memberikan pernyataan yang disiarkan tiga kantor berita Rusia, bahwa ia harus menjaga keamanannya dari serangan ekstrimis. Segera setelahnya, tiga kantor berita sama mengutip seorang pejabat tinggi Rusia yang menyatakan, permintaan Yanukovych dipenuhi di wilayah Rusia.

Straßensperre der Separatisten in Slowjansk
Blokade jalan yang didirikan separatis di Sloviansk, Ukraina timurFoto: DW/R. Goncharenko

Oleksandr Turchynov, yang menjadi presiden setelah Yanukovych digulingkan mengutuk pendudukan gedung pemerintah di beberapa kota Krimea, dan menyebutnya kejahatan terhadap pemerintah Ukraina. Ia juga memperingatkan, gerakan apapun yang dilakukan pasukan Rusia di pangkalan militer di Krimea, akan "diaanggap serangan militer".

Kamis malam (17/04) Rusia, AS, Uni Eropa dan Ukraina mencapai kesepakatan bahwa kelompok bersenjata ilegal di Ukraina akan dibubarkan. Selain itu, gedung-gedung pemerintah yang diduduki di Ukraina timur akan dibebaskan. Tetapi kesepakatan itu tidak dipatuhi.

Turchynov kini menyatakan, "Orang-orang dengan senjata otomatis, bahan peledak dan granat telah mengambil alih gedung-gedung pemerintah dan gedung parlemen di daerah otonomi Krimea." Ditambahkannya, "Saya sudah memerintahkan militer untuk menggunakan semua metode yang diperlukan untuk menjaga keamanan warga sipil, menghukum pelaku tindak kriminal dan membebaskan gedung-gedung dari kekuasaan mereka."

Ukraine Interim Präsident Alexander Turtschinow 23.02.2014 2013
Presiden Ukraina Oleksandr TurchynovFoto: picture-alliance/Itar-Tass/Maxim Nikitin

Arseniy Yatsenyuk Jadi PM Baru

Sementara itu, di Kiev parlemen memilih Arseniy Yatsenyuk sebagai perdana menteri baru Ukraina. Ia menghadapi tugas berat untuk mengembalikan stabilitas negara, yang tidak hanya terbelah dua dari segi politik, melainkan juga berada di jurang krisis finansial. Yatsenyuk yang berusia 39 tahun dulu pernah menjadi menteri ekonomi, menteri luar negeri dan juru bicara parlemen, sebelum Yanukovych menjadi presiden tahun 2010. Ia dianggap pelaksana reformasi dan mendapat dukungan AS.

Senin (21/04) Presiden Rusia Vladimir Putin melonggarkan undang-undang yang mempermudah penutur bahasa Rusia di wilayah bekas Uni Sovyet untuk mendapat kewarganegaraan Rusia. Sementara itu, Wakil Presiden AS Joe Biden akan mengadakan kunjungan ke Ukraina, demikian pernyataan Gedung Putih. Selasa besok (22/04) Biden akan mengadakan pembicaraan dengan PM Arseniy Yatsenyuk dan Presiden Oleksandr Turchynov, juga sejumlah anggota parlemen Rada.

ml/ap (rtr, afp, ap)