1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Jerman Siap Hadapi Ebola

Martin Riebe14 September 2014

Jerman siap hadapi serangan penyakit berbahaya seperti ebola. Virus bisa datang, tapi risiko penyebaran kecil, karena langkah pengamanan yang baik. Persiapan libatkan tim penolong, badan kesehatan dan klinik universitas.

https://p.dw.com/p/1D8cO
Foto: picture-alliance/dpa

Lebih dari 2.000 orang sudah meninggal akibat ebola. Virus ebola di Afrika Barat meraja lela tak terkendali. Organisasi Kesehatan Dunia, WHO memperkirakan, 10.000 orang berikutnya akan meninggal dalam beberapa bulan mendatang.

Sekarang ebola juga ditemukan di Nigeria. Artinya, Jerman sekarang memiliki kontak langsung dengan sebuah negara tempat ebola berjangkit. Pasalnya, pesawat dari maskapai penerbangan Jerman Lufthansa terbang tiap hari dari dan ke Nigeria, dengan membawa penumpang ke bandara Frankfurt am Main, sehingga orang yang tertular ebola bisa dengan mudah tiba di bandara Frankfurt.

Pengamanan di Frankfurt

Oleh sebab itu René Gottschalk, kepala Badan Kesehatan Frankfurt, secara teratur datang ke bandara dan memeriksa langkah pengamanan di sana. Jika seorang penumpang pesawat menunjukkan simtom ebola, rencana tindakan darurat yang terperinci mulai dijalankan.

Gotschalk mengatakan, "Kapten pesawat melaporkan penumpang yang sakit ke bandara tujuan. Pihak bandara akan meneruskan informasi kepada kami, dan kami sudah akan selesai mempersiapkan segalanya, sebelum pesawat mendarat, agar bisa menyambut terduga pasien kasus ebola."

Symbolbild - Ebola Forschung
Gambar simbol penelitian ebolaFoto: picture-alliance/dpa

Menandai terduga terinfeksi

Pesawat diparkir jauh terpisah di bagian lain bandara, dan para pakar dari klinik bandara naik ke pesawat. Para dokter memberi tanda dengan sticker warna merah yang ditempatkan pada baju pasien terduga kasus ebola.

"Penumpang lain, yang duduk dekat sekitar pasien, mendapat tanda warna kuning. Dalam kasus ebola, kemungkinan yang tertular tidak terlalu banyak. Yang mendapat warna kuning kemudian naik bus warna kuning. Bus membawa mereka ke gedung yang sudah disediakan, dan di sana mereka akan mendapat penanganan medis," kata Gottschalk. Dan mungkin mereka akan dibawa ke karantina. Penumpang lainnya mendapat tanda warna hijau dan bisa melanjutkan perjalanan.

Diangkut kendaraan khusus

Sementara itu, pemadam kebakaran mempersiapkan pengangkutan terduga yang terinfeksi ebola, secepat mungkin. Petugas penyelamat melengkapi mobil transpor khusus dengan peralatan penyelamatan yang diperlukan. Setelah digunakan dan melewati desinfeksi dengan formalin, peralatan mahal tersebut tidak boleh digunakan lagi.

Sebuah instalasi filter udara menciptakan tekanan udara rendah di kendaraan. Dengan demikian, virus, bakteri dan jamur tidak bisa bocor keluar dari kendaraan. Sebelum pesawat tiba, kendaraan itu sudah siap menunggu di bandara. Prof. René Gottschalk mengatakan, "Pasien kemudian dibawa ke rumah sakit universitas Frankfurt. Di sana sudah didirikan stasiun isolasi khusus."

Pasien disambut dokter dan perawat di depan stasiun isolasi yang mengenakan pakaian pelindung khusus kedap udara dan air, sehingga melindungi mereka dari infeksi. Untuk mengenakan pakaian khusus itu, dokter dan perawat butuh waktu 20 menit, dan perlu dibantu orang lain.

Peter Fleckenstein, perawat di klinik Frankfut menjelaskan, "Dalam pakaian terdapat tekanan udara tinggi, yang diakibatkan udara yang ditiupkan ke dalam pakaian. Karena tekanan udara tinggi, tidak ada bibit penyakit yang bisa masuk."

Di stasiun isolasi di rumah sakit universitas, hanya dirawat pasien yang terinfeksi penyakit menular dan mematikan. Sejauh ini, stasiun itu hanya dua kali digunakan, yaitu untuk pasien SARS dan demam lassa. Dokter dan perawat dilatih secara teratur, walaupun tidak ada keadaan darurat. Karena dalam pakaian pelindung sulit bergerak sehingga harus dilatih.

Sarung tangan khusus menyebabkan, dokter atau paremedis tidak bisa merasakan apa-apa di jari, ini membuat penanganan tambah sulit. Apapun yang dilakukan perlu waktu dua sampai tiga kali lebih panjang. Memasang plester atau membuka sesuatu lebih sulit daripada dengan sarung tangan biasa.

Tim krisis analisa situasi

Di Badan Kesehatan Frankfut, sebuah tim krisis secara berkala, dua hari sekali menganalisa situasi ancaman wabah ebola. Para pakar Jerman yakin, bisa menghadapi situasi darurat.

Prof. René Gottschalk menjelaskan, "Bahaya penyebaran ebola di Jerman relatif kecil. Cara paling mudah untuk mencegahnya adalah penanganan secepat mungkin, jika ada kasus yang mencurigakan. Selain itu, orang-orang yang berhubungan langsung dengan pasien juga harus segera ditemukan, diberi informasi dan diamati, apakah menunjukkan simptoma yang sama. Dengan begitu rantai penularan bisa segera dipotong."

Sejauh ini penanganan standar infeksi virus ebola memang belum ada. Jadi tindakan pengamanan dan rencana keadaan darurat adalah langkah satu-satunya yang bisa menolong.