1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Obama Akan Hadapi Jegalan Berat

Michael Knigge (as/vlz)5 November 2014

Kemenangan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu akan mempertajam politik blokade yang dijalankan. Obama harus mengamankan warisan politiknya dalam sisa dua tahun masa jabatan. Tajuk Michael Knigge.

https://p.dw.com/p/1Dh2Q
Barack Obama
Foto: picture alliance/Photoshot

Partai Republik kini berhasil menguasai mayoritas di dua kamar Kongres Amerika Serikat. Kondisi politik menjelang pemilu paruh waktu amat menguntungkan kubu Republik. Menghadapi seorang presiden Partai Demokrat dengan popularitas yang merosot drastis. Serta jadwal pemilihan Senat yang tepat, dimana para pemilih biasanya memanfaatkan pemilu sela, untuk memuntahkan rasa frustrasinya kepada partai dari presiden berkuasa.

Kelompok yang optimis masih meyakini, bahwa kubu Republik di Kongres akan memanfaatkan cengkeraman kekuasaan baru untuk memutar haluan, dan menjalin kerjasama dengan presiden, bukannya memblokir semua inisiatif yang datang dari Gedung Putih.

Mereka menunjuk fakta sejarah, bahwa periode pemerintahan yang terbelah, biasanya merupakan masa jabatan paling produktif untuk memutuskan sejumlah regulasi baru.

Akan tetapi, asumsi bahwa anggota Kongres dari partai Republik akan bertindak rasional dan bertanggung jawab terhadap target pemerintah adalah anggapan keliru. Faktanya, dalam beberapa tahun belakangan, kubu Republik di Kongres terus menjegal rancangan reformasi yang diajukan pemerintah Obama.

Bukannya memproduksi keuntungan nyata untuk pemilih, sayap ultra konservatif "Tea Party" justru mendesak kubu Republik di Kongres untuk mengambil posisi mendukung tuntutan kelompok radikal Republik di tingkat regional bukannya kebijakan partai di tingkat nasional. Tindak tanduk yang bisa mengurangi dukungan pemilih semacam ini, tidak membuat aktivis Tea Party menyurutkan langkahnya.

Menimbang aksi sebelumnya kubu Republik di Kongres itu, serta kemungkinan makin banyaknya anggota kongres berhaluan konservatif garis keras, nyaris tak ada kemungkinan tiba-tiba mereka mencari komromi. Obama kini harus mempersiapkan diri menghadapi periode legislatur yang makin diwarnai sikap bermusuhan.

Sejatinya presiden Obama, setelah terpilih untuk masa jabatan kedua, telah menyepakati kompromi dengan kubu Republik di Kongres. Akan tetapi realitanya sangan mustahil menjalankan pemerintahan dengan kesepakatan dari Kongres. Karena itu, ia mengambil jalan alternatif dengan mengeluarkan perintah presiden.

Tren menunjukan, Obama akan makin banyak mengeluarkan perintah presiden atau juga menggunakan hak veto untuk memblokir kubu Republik. Dampaknya adalah, akan makin maraknya atmosfir partisan dan perpecahan politik dibanding sebelumnya.

Deutsche Welle Michael Knigge
Michael Knigge redaktur DW.Foto: DW/P. Henriksen

Dengan pemikiran itu, Obama harus memfokuskan diri untuk mengokohkan dua proyek terpenting dalam masa jabatannya, ketimbang menggelar inisiatif baru yang belum tentu sukses.

Di dalam negeri, Obama harus mengamankan sukses bersejarahnya terkait reformasi kesehatan, dan melindunginya dari serangan kaum Republik yang ingin membatalkan aturan ini.

Di tatanan internasional, Obama harus berupaya secepat mungkin menjalin kesepakatan atom dengan Iran, yang juga akan dicatata dalam sejarah. Memang ini tugas sulit dan waktu mungkin terlalu pendek. Tapi, jika dalam masa jabatannya, bisa dicapai kesepakatan sementara dengan Iran, secara politik akan sulit bagi partai Republik untuk membatalkan lagi kesepakatan.

Dengan itu dapat ditentukan nasib dari dua sukses, sekaligus warisan politik presiden Obama dalam dua tahun terakhir masa jabatannya.