1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialIndonesia

Perempuan Indonesia Dorong Keterbukaan Gereja Jerman

Marjory Linardy
17 Desember 2022

Sebagai pendeta perempuan di Jerman, ia awalnya juga hadapi tantangan dalam tugas sebagai penjalin hubungan antara gereja Jerman dan gereja migran. Sejalan waktu, tantangan tetap ada, tetapi harapan juga terus tumbuh.

https://p.dw.com/p/4L57C
NICHT ROAD-TOP-Bild! | Beitrag über Ati Hildebrandt Rambe, indonesische Theologin | Privatbild
Foto: privat

Dr. Aguswati Hildebrandt Rambe, yang panggilan akrabnya Ati, sudah tinggal Jerman lebih dari 20 tahun. Dia lahir di Kendari, Sulawesi Tenggara. Ia bercerita, ia datang dan bermukim di Jerman karena suaminya, yang orang Jerman. Mereka bertemu di Swiss ketika sama-sama berkuliah di jurusan teologi. “Saya waktu itu dapat beasiswa,“ begitu katanya. Setelah selesai kuliah dia kembali ke Indonesia, karena saat itu dia sudah ditahbiskan menjadi pendeta di Indonesia. Suaminya, yang ketika itu masih pacarnya, kemudian menyusul dan mereka menikah di Indonesia, dan setelah itu mereka pindah ke Jerman.

Kembali di Jerman, suaminya bekerja, dan dia mulai berkuliah S2 di bidang Religionswissenschaft atau ilmu agama, dan Islamwissenschaft atau ilmu mengenai Islam. “Karena di Jerman tidak bisa dapat apa-apa kalau hanya S1,“ katanya sambil tertawa. Setelah itu, mereka berdua kembali ke Indonesia, diutus oleh sebuah badan misi di Stuttgart, yaitu untuk jadi dosen di Sekolah Tinggi Teologi di Makassar. Di sana mereka mengajar selama kurang lebih tujuh tahun. Setelah kembali ke Jerman, Aguswati Hildebrandt Rambe mulai studi S3, dan meraih gelar doktor tahun 2012.

Mulai tahun 2013, dia mulai bekerja di posisinya yang sekarang. Dia bekerja sebagai pendeta di negara bagian Bayern, tetapi dia tidak memimpin sebuah jemaat melainkan punya tugas khusus untuk seluruh negara bagian Bayern, yang diberikan oleh Evangelische Kirche in Deutschland (EKD) yang merupakan organisasi Gereja Protestan Jerman. Tugas itu ia laksanakan bersama suaminya, Markus Hildebrandt Rambe, yang juga seorang pendeta.

Menjalin hubungan antar budaya di negeri orang

Situs dari bagian gereja di mana mereka bertugas bertuliskan Interkulturell Evangelisch in Bayern, artinya Protestan dan antar budaya di Bayern. Begitu jugalah kira-kira tugasnya. Yang pertama: kerjasama oikumene dengan gereja-gereja migran yang ada di negara bagian Bayern. Dia mengutarakan, di Bayern saja ada sekitar 300 gereja migran yang berasal dari berbagai bagian dunia, antara lain juga dari Indonesia. Ia dan suaminya bertugas menjalin hubungan dan kerjasama dengan semua gereja-gereja itu.

NICHT ROAD-TOP-Bild! | Beitrag über Ati Hildebrandt Rambe, indonesische Theologin | Privatbild
Bersama suami dalam sebuah tugas gerejaFoto: privat

Tugas kedua adalah, mendukung gereja, di mana mereka menjadi anggota, yaitu Evangelisch-Lutherische Kirche in Bayern, atau Gereja Protestan Lutheran di negara bagian Bayern, yang jadi salah satu bagian EKD. Tepatnya ia menyokong para pendeta di gereja mereka masing-masing, dalam pekerjaan yang bersifat antar budaya, dan secara khusus, agar gereja Jerman lebih terbuka bagi imigran, yang tentu saja tidak terdiri dari pengungsi saja.

Itu bisa dilaksanakan dengan berbagai aktivitas. Selain itu, misalnya dengan mengubah liturgi ibadah gereja, agar tidak 100% menggunakan bahasa Jerman saja, melainkan dipadukan dengan bahasa-bahasa lain, yang digunakan imigran. Ia memberikan contoh, ada satu bahasa yang jadi bahasa utama dalam ibadah, misalnya Jerman atau Inggris, kemudian doa Bapa Kami dalam bahasa ibu masing-masing, setelah itu pembacaan Mazmur dengan bahasa Oromo [salah satu bahasa yang digunakan di Ethiopia] atau bahasa Farsi. “Jadi kita lebih kreatif dalam menyusun liturgi ibadah.“

Tujuannya antara lain, agar imigran yang belum mahir berbahasa Jerman juga bisa mengikuti ibadah di gereja, sehingga juga merasa diterima. “Bahasa ibu membuat mereka merasa seperti di kampung halaman,“ begitu dijelaskan Aguswati Hildebrandt Rambe lebih lanjut. Jadi ruang itu harus disediakan bagi para imigran. Tapi ia juga yakin, tidak ada imigran yang berharap bahwa jika ia pergi ke gereja Jerman, maka seluruh ibadah akan menggunakan bahasa ibunya.

Ia menambahkan, gerejanya sendiri juga bukan beranggotakan orang Jerman saja, melainkan dari berbagai negara. Menurut statistik, jumlah orang yang dari luar Jerman bahkan sekitar 20%, dan dari Indonesia sekitar 500 orang. “Kalau satu saja lagu yang dinyanyikan saat ibadah memakai Bahasa Indonesia, pasti orang Indonesia yang hadir juga merasa berbunga-bunga, kan?“ katanya sambil tersenyum.

Selain itu, jika ada imigran yang punya masalah dalam hal konseling pastoral, mereka juga bisa meminta bantuan dari petugas di bidang hubungan antar budaya. Ia mengambil contoh, belum lama berselang, datang teman kerjanya, yang imigran dan dulu jadi pengungsi di Jerman. Di negaranya, orang itu sudah memeluk agama Kristen, tetapi belum dibaptis karena situasi keamanan yang tidak memungkinkan. Kepada orang itu, dia memberikan pelajaran lebih lanjut tentang agama Kristen.

Selain masalah spiritual, orang itu juga bisa datang dengan masalah lain, seperti masalah hukum. Misalnya jika izin tinggalnya di Jerman tidak akan diperpanjang. Ia dan suaminya membantu orang itu untuk bisa mengatasi tekanan psikologis yang ia hadapi. Tapi untuk penanganannya, masalah yang berkaitan dengan hukum akan ia salurkan ke petugas yang khusus bekerja di bidang itu. Contoh lain adalah jika mereka sakit dan harus masuk ke rumah sakit, maka mereka akan dikunjungi dan didoakan.

NICHT ROAD-TOP-Bild! | Beitrag über Ati Hildebrandt Rambe, indonesische Theologin | Privatbild
Dr. Aguswati Hildebrandt Rambe ketika memimpin ibadah di gerejaFoto: privat

Para imigran itu biasanya berusaha untuk berkomunikasi dalam bahasa Jerman, tetapi karena Aguswati Hildebrandt-Rambe juga bukan orang Jerman, mereka merasakan kedekatan dari segi budaya. “Gaya kita dengan orang, cara membangun relasi, mungkin sedikit berbeda, jika dibanding dengan orang Jerman,“ katanya. Dengan keterbatasan mereka dalam hal bahasa, para imigran yang juga sebagian pengungsi, berusaha memasak untuk dia. “Jadi mereka mungkin melihat saya seperti keluarga, bukan pendeta,“ katanya.

Mendampingi dan memberikan pelatihan bagi pendeta lain

Tantangan terbesar yang ia hadapi di Jerman pada dasarnya hanya di awal saja, kata pendeta perempuan itu. “Yaitu bagaimana masuk ke ruang atau wilayah pekerjaan di gereja Jerman,” katanya dan menambahkan, karena pendeta dari luar Jerman yang menjadi pendeta di gereja Jerman masih jarang. Dia becerita, dulu di Indonesia, dia memimpin sebuah jemaat gereja. Sehingga tugasnya adalah memberikan pelayanan, dan lingkupnya adalah jemaatnya saja. Tetapi di Jerman ia berkecimpung di bidang yang lebih luas. Sekarang dia harus mendampingi pendeta-pendeta lain, juga memberikan seminar dan intercultural training. Jadi dulu perlu penyesuaian.

“Sekarang sebetulnya lebih pada menikmati,“ katanya sambal tertawa. “Di awal saya mungkin sedikit kurang PD [percaya diri], begitu ya,” katanya lagi. Jadi dulu dia kadang berpikir, apakah saya bisa melakukan pekerjaan ini? Memang dia tidak pernah mengalami penolakan secara terbuka dari orang lain. Tapi ia juga pernah punya pengalaman yang mengarah pada sikap seksis dan rasis. Dia mengaku, sekarang dia bisa mengambil kesimpulan seperti itu, tapi dulu ketika baru memulai profesi barunya, itu jadi tantangan. Yang jelas dia bersyukur, bahwa gerejanya semakin membuka diri untuk orang-orang yang bukan orang Jerman.

Dalam fungsinya yang sekarang, dia juga mengaku tidak ingin hanya diminta untuk memberikan keterangan tentang Indonesia, karena dia orang Indonesia. “Saya ingin diakui sebagai seorang teolog, yang juga sama seperti yang lain,“ katanya dengan tegas. “Saya lahir di Indonesia, tapi saya sudah lama meninggalkan Indonesia walaupun masih kerap berkunjung, tapi kompetensi saya sebagai intercultural teologian [teolog antar budaya] juga harus diakui,“ demikian ditekankan Aguswati Hildebrandt-Rambe. Jika dia berbicara dengan tegas seperti itu, orang lain juga menjadi sadar, katanya.

Berkaitan dengan itu, dia mengutarakan, “Di sini saya senang, karena orang kalau dikritik mau mendengar. Yang penting kita kasi tahu dasarnya apa, kan begitu,“ katanya, dan menambahkan, “kalau di Indonesia kan orang sudah marah, sudah tersinggung.“  

NICHT ROAD-TOP-Bild! | Beitrag über Ati Hildebrandt Rambe, indonesische Theologin | Privatbild
Salah satu tugasnya adalah menjalin hubungan dengan gereja-gereja migranFoto: privat

Tantangan lain yang ia rasakan di Jerman tidak ada, selain cuaca dingin, katanya sambal tertawa, dan menambahkan, “Tapi itu juga tidak terlalu, karena saya sudah lama di sini.” Tapi itulah risikonya kalau hidup di dua dunia. “Kalau saya di sini, saya rindu Sulawesi yang hangat, panas dan berkeringat,“ katanya lagi sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kalau sedang di Sulawesi dia juga mengeluhkan, mengapa selalu panas. “Berarti kembali lagi ke saya, yang ga pernah puas.“

Terbiasa menghemat energi

Menyambut Natal tahun ini suasananya ia rasakan lebih baik daripada tahun lalu dan dua tahun lalu, karena restriksi sudah tidak sebanyak tahun lalu, walaupun pandemi Corona belum berakhir. Tahun-tahun lalu banyak gereja migran yang menghadapi kesulitan untuk melaksanakan ibadah Natal, katanya, termasuk gereja Indonesia di kota Nürnberg. Kesulitan mereka hadapi, karena mereka kebanyakan tidak memiliki gedung sendiri, melainkan meminjam ruang di gereja lain, atau gedung lain. Selain itu, menyambut Natal tahun ini dia juga merasa senang, karena akan pulang ke tanah air, katanya sambil tertawa.

Ketika ditanya bagaimana menyambut Natal dalam kondisi di mana orang harus menghemat energi akibat perang di Ukraina, dia tertawa dan mengatakan, “Sebelum perang pun, kami sudah hemat energi.“ Dia menjelaskan, di musim dingin, mereka tidak terlalu menghangatkan ruangan. Sejak lima tahun lalu, ia dan suaminya juga sudah tidak punya mobil. Mereka berusaha selalu menggunakan angkutan umum. “Jadi tanpa perang Ukraina, kami sudah sedikit terlatih,“ katanya.

Dulu, sebelum pandemi, di masa Natal, tepatnya tanggal 25, 26 dan 27 Desember, mereka selalu membuka rumah dan mengundang makan rekan dan teman dari berbagai negara, misalnya dari Iran, Ethiopia, Korea, juga Myanmar. “Jadi saya biasanya bikin sate. Pokoknya masak untuk mereka lah.”

Dari Jerman sendiri, pelajaran yang dia peroleh sangat banyak. Tetapi yang paling penting adalah, dia menyadari bahwa kepedulian sosial orang Jerman sebenarnya sangat tinggi. “Kalau di Indonesia, kita biasanya peduli dengan orang yang kita kenal, sesuku, atau segereja, begitu, ya.”  Kepedulian itu jadi pelajaran besar bagi dia. “Jadi kita peduli karena dia manusia, bukan karena dia dari negara mana.“ Di Jerman, dia belajar kemanusiaan lintas budaya dan lintas agama, dan itu lebih dipraktekkan setiap hari.

NICHT ROAD-TOP-Bild! | Beitrag über Ati Hildebrandt Rambe, indonesische Theologin | Privatbild
Foto: privat

Dia mengemukakan fakta bahwa di Jerman tidak hanya ada pengungsi dari Ukraina, melainkan juga dari negara-negara lain, seperti Afghanistan, Irak dan Iran. Dia menarik kesimpulan bahwa para pengungsi yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka menyadari bahwa di Jerman mereka diperlakukan dengan baik. Meskipun, tentu saja ada pula kasus-kasus yang negatif, di mana pengungsi melanggar hukum dan jadi ancaman bagi orang lain. Tapi itu kasus tunggal, begitu dikatakannya.

Melaksanakan nilai-nilai iman dalam hidup sehari-hari

Berkaitan dengan itu, dia juga mengungkap ketidaksetujuannya, jika orang misalnya di Indonesia menyebut-nyebut bahwa gereja di Jerman kosong. “Memang hari Minggu bisa kosong. Tapi kalau kita melihat jemaat secara keseluruhan, aktivitasnya tersebar, dan berlangsung dari satu hari Minggu ke Minggu berikutnya. Selama itu ada anggota jemaat yang aktif menolong pengungsi, melayani dengan membuat kafe bagi pengungsi, dan inisiatif-inisiatif lain, yang sangat peka terhadap berbagai masalah sosial,“ begitu ditegaskan pendeta Aguswati Hildebrandt Rambe.

Orang tidak bisa hanya melihat berapa jumlah orang yang duduk manis di gereja pada ibadah hari Minggu. Ia mengungkap jemaat tempat ia beribadah saja mengurus empat rumah jompo, dan beberapa tempat penitipan anak.

Yang penting adalah, bagaimana mengejawantahkan nilai-nilai iman ke dalam kehidupan sehari-hari. Itu juga berkaitan dengan masalah global seperti perubahan iklim. Ia berharap setiap orang bisa mengambil langkah untuk berkontribusi positif dalam masalah ini. "Tidak perlu bikin program besar, tapi mungkin bisa menghemat energi, tidak perlu beli terlalu banyak baju," katanya sambil tertawa terbahak-bahak, "karena itu juga konsumerisme yang membuat iklim semakin parah."  

Harapannya di tahun depan, gereja-gereja Jerman akan bisa lebih membuka diri lagi bagi orang-orang asing, dalam berbagai tingkat. Untuk dirinya pribadi, "Saya berharap Ukraina akan bisa hidup dalam damai, dan di Iran akan ada titik cerah yang berpengharapan." (yp)